Si Kecil Kupang yang Menantang.

Setelah menunggu desain logo, sticker, dan header ini itu oleh bung @jalalabdulaziz untuk @inCHEAPin, tanggal 11 Oktober lalu akhirnya kami resmi memulai perjalanan pertama kami! Wuhuuuw!

And, here we go..

Kupang Lontong Prapatan Merbabu!

Hari itu tepat hari minggu. Jalanan Malang sedang macet-macetnya oleh orang-orang yang 'naik gunung' menuju arah mBatu dan muda-mudi yang asik plesir menuju pertokoan-pertokoan di pusat kota. Kami juga termasuk di dalam keriewuhan itu namun tak memilih dua destinasi di antara tadi. Tujuan kami adalah..... Kupang lontong perempatan Merbabu!

Saat menuju lokasi incheapin yang satu ini, kalian akan disambut dengan sejuk dan rindangnya pohon-pohon tua di kiri kanan jalan dan tentu, Hutan Kota Malabar yang terletak tak jauh dari sana dan sering jadi tempat hunting anak-anak gawls Malang karena memang sejuk dipandang.

Di seberangnya, terutama sekitar pukul 14.00 sampai 19.00 (kalau belum habis), sebuah gerobak berwarna coklat tua dipastikan lagi nangkring. Gerobak itu milik Pak Edi, bapak yang sudah beberapa tahun ini bergelut meramu Kupang.

Pertama kali kami berkunjung, Pak Edi langsung menarik perhatian kami. Beliau ada di sana tidak cuma memanjakan lidah pengunjungnya, tapi juga akal dan nurani.

"Have a seat please," ujar beliau dengan Bahasa Inggris yang oke sambil tersenyum.

Sangar!

Saat sowan perdana itu, kami kebetulan duduk bersama pasangan muda dengan anaknya yang seusia SD kelas 1. Kami bertanya-tanya, "mengapa pasangan yang terlihat mapan secara moral dan materil (terlihat dari kedatangan mereka dengan roda empat tipe keluarga dan tawa-tiwi yang menghiasi percakapan mereka) ini mau mampir ke tenda sederhana ini? Apa istimewanya?"

Setelah kepulangan mereka, Pak Edi mau angkat bicara, "Oh, mereka sudah jadi langganan Bapak, sejak masih pacaran dan kuliah di Brawijaya (Universitas Brawijaya, Malang. red)."

Sangar kuadrat!

Setelah pesanan kami datang, langsung deh dicicipin. Tak bersisa dan tanpa komplain! :D
Terusss.. hal yang bikin Si Kecil Kupang ini jadi menantang adalah, kebanyakan kita masih terjebak mitos bahwa "Kupang itu diumpan pakai pup-nya manusia". Makan kupang sambil terbayang-bayang mitos gitu, siapa yang berani hayooo!?!? :p

Dan lagi, kita bisa pesen dengan tingkat pedas-kecut sesuai selera. Mau imbuh kuah atau lontong atau kupang dan sate kerang lagi juga bisa! Tapi menurut kami, seporsi lontong kupang + gorengan + sate kerang + telur asin ini sudah bikin perut full tank sampai tumpeh tumpeh, kok!

Sangar triplet!


Kupang Lontong Perempatan Merbabu

:)
- Paduan Kupang Lontong plus keasyikan dan keramahan Pak Edi sungguh lebih dari mengenyangkan dan sangat nyaman lah!
- Ada telur asin dan sate kerangnya dari Kerang Hijau! (kalau beruntung)
-Meskipun jualan di gerobak, tapi air yang digunakan untuk mencuci perlalatan makan terjamin kebersihannya karena rajin diganti dari keran di klinik tepat di belakang gerobak.
-Terletak di dekat Hutan Kota Malabar dan Taman Merbabu: pemandangan alam ada, pemandangan sosial juga ada.


:(
- Ada ponten portable di sebelah gerobak. Mungkin beberapa orang merasa kurang nyaman dijejerin ponten (meski tidak ada bau tak sedap yang tercium.)
- Kalau hujan, siap-siap aja basah. Maklum, tenda sederhana Pak Edi ini tidak tertutup.
- Semoga kalian ke sana pas Pak Edi lagi tidak banyak pelanggan atau lagi tidak bad mood, karena rugi banget kalau tidak sempat ngobrol dengan beliau.


Harga
Sepiring Kupang Lontong dipatok Rp13.000,00 (sudah termasuk 5 tusuk Sate Kerang). Kalau mau nambah telur asin, cukup merogoh kocek tambahan Rp2000,00 saja per butirnya.

Gimana? Selamat mencoba dan ditunggu komentarnya, ya! ^^


Aloha! Ciao! Ola! Hallo!

Apa kabar?

Masih doyan makan dan berburu harga miring, gak? Pasti masih dong! Karena segengsi-gengsinya kita, yang namanya diskonan atau harga murah itu nggak akan pernah luput dari mata. Admit it! Terutama cewek-cewek tuh! :p

Dan.... selain berburu diskonan, apapun pasti dilakukan agar bisa dianggap 'setara'.
Mulai dari pakaian, dalaman, bahkan makanan, semuanya dibeli dengan gengsi dan harapan akan "diakui keberadaannya" saat sudah mampu membeli barang yang sama, memakai brand yang sama, dan melahap nasi di resto ternama yang padahal sama-sama berharga Rp9.000,- per-kilonya.

Sadar atau tidak, manusia kekinian memang gitu, kok. Makanan gak lagi jadi sekedar kebutuhan, tapi jadi sebuah taraf penentu kemampuan, bahkan, pergaulan. Orang-orang mulai enggan makan di bahu-bahu jalan, di gerobak yang ngetem di emperan toko, atau di warung tenda. Baginya, itu hanyalah kegiatan masyarakat terpuruk; Masyarakat level menengah ke bawah; Masyarakat yang lebih sering bertanya-tanya "Nanti makan apa?" dibanding "Nanti makan dimana?"

Beberapa yang lain mungkin bukan karena gengsi, tapi karena ragu dengan higienitas di warung-warung kecil tersebut, tapi percayalah, satu dua helai rambut atau tetes keringat Si Mbok yang jatuh saat lagi seru-serunya ngulek sambel tidak akan lebih menimbulkan penyakit daripada produk-produk impor yang sudah terbukti seberapa seringnya membawa virus-virus mematikan dari luar.

"Tapi kan ada tuh yang di acara 'reportase-reportase-suara-cempreng' kalau makanan-makanan murah di pinggir jalan bahan-bahannya diberi pengawet dan pewarna berlebihan. Apa gak bahaya juga?"

Iya, tapi gak semua penjual seperti itu. Masih ada penjual jujur di luar sini. Dan, memukul rata dengan judgement jahat tanpa mau mencoba telebih dulu bukankah tidak adil? :)
Lagipula, makanan pinggir jalan penjualnya gak cuma bapak-ibuk paruh baya, kok. Ada mas-mas ganteng dan mbak-mbak manis juga loh yang jadi owner-nya! Hihihi :3

Kalau nggak percaya, coba deh follow dan pantau terus timeline @inCHEAPin! Selama akun ini masih 'hidup', setidaknya kalian jadi saksi bahwa makanan pinggir jalan tidak se-menyesat-menyakit-dan-menjemukan yang kalian pikirkan. Malah, kalau kalian mau memberanikan diri --seperti yang biasa kami lakukan-- untuk memulai obrolan dengan Si Penjual, kalian akan mendapat banyak tips mengolah makanan, cerita jatuh bangunnya mereka, sampai panduan urip adem ayem dan satu dua doa sederhana yang layak diamini.

Hal inilah yang ingin kami bagi; Percakapan dan pelajaran yang tidak akan kita dapatkan saat mampir di restoran fast food atau cafe cafe ngehits selain percakapan tentang password WiFi.

"Kami? Siapatuh 'kami'? Emangnya @inCHEAPin itu apa? Kok seenaknya nyuruh follow?"

@inCHEAPin adalah 'anak' yang diasuh @ulwanfakhri dan @FirdaaaFF. Sepasang manusia yang punya lapar permanen dan ntah 'mukjizat' dari mana, selalu nemu tempat-tempat makan yang sesuai dengan motto "hidup hemat"nya.

"Terus, kok namanya 'inCHEAPin'? Kenapa gak 'incipin' biasa aja? Kenapa diganti 'cheap' lalu dikapitalkan dan diunderline?"

Karena memang lokasi-lokasi yang kami tuju tidak akan menghabiskan biaya melebihi biaya paketan bulanan kalian.
Sejalan dengan mengapa kami mengkapital & underline kata CHEAP, kami mengutamakan = harga murah, tapi tetap layak diincipin.

"Oh ya? Se-hemat dan se-murah apa, sih?"

Se..... Se-bar-bar atau makan seporsi kuli tapi isi dompet cuma berkurang se-mili-meter.

Serius.

Sudah lulus uji oleh kami sebagai perwakilan anak muda yang baru bekerja kecil-kecilan, serta didikan orang tua yang menanamkan prinsip hemat sedari kecil.
Eh! Lulus uji oleh asli keturunan tionghoa itu bumbu pelengkap, ya. Hehehe. :p

"Kenapa mau banget nulis-nulis ginian? Emang dibayar?"

Karena kami berdua sama-sama jatuh hati pada tulis-menulis, dan jatuh hati pada satu sama lain. *eaaa :3
Lagipula, selain foto, tulisan juga mampu jadi alat penular kebahagiaan dan membekukan kenangan. :)

Tanpa diupah atau.... diendorse seperti travel-food-photo-blogger masa kini, sekedar mencicipi dan mendengarkan kisah mereka lalu bisa berbagi bersama kalian sudah terhitung upah kok untuk kami. Atau.. kalau kalian mau mengupah kami, bisa banget dengan sharing tempat-tempat kuliner di kolom komen atau mention langsung ke @inCHEAPin! :D

Jadi ya gitu......

Dengan @inCHEAPin, kami hanya ingin berbagi kuliner-kuliner yang dianggap underdog di Malang, dan di manapun kami berhenti untuk memadamkan kelaparan nantinya. Berbagi keluh kesah dari para penjualnya, sekaligus untuk menghapuskan pemikiran bahwa makanan pinggir jalan atau yang murah-murah itu menjijikkan.

Ingat, murah belum tentu  murahan, mahal belum tentu enak dijajal.

Malang,
Desember, 2014.
#Fakhrida
PS :
1. Fokus utama kami memang rombong-rombong dan resto-resto murah, tapi sesekali juga akan ada review warung non-emperan yang kulinernya benar-benar nyleneh. Hihihi.
2. Mendatang, akan ada rubik khusus tentang review mi instan mulai dari yang ecek-ecek sampai yang rasanya wenak. Semoga membantu kalian di akhir bulan. ;)
3. Kalau tak terhalang handphone yang lowbatt atau memori tiba-tiba bermasalah, selain foto makanan & minuman akan ada foto OwOwTeyDey a la kami! :p
4. Ada lagi gak yang harus ditambahin? Silakan komen di bawah atau langsung mention kami, ya!

Cheers! ^^